Cara Membuat VPN Site-to-Site MikroTik dengan WireGuard di RouterOS v7
VPN site-to-site MikroTik dibuat dengan menghubungkan router di dua lokasi melalui tunnel terenkripsi, kemudian menambahkan route dan aturan firewall agar jaringan lokal yang diizinkan dapat berkomunikasi. Pada RouterOS v7, WireGuard dapat digunakan untuk membangun koneksi tersebut melalui interface virtual, pertukaran public key, dan konfigurasi peer.
Namun, interface yang sudah aktif atau handshake yang berhasil belum membuktikan bahwa aplikasi kantor dapat digunakan. Akses dari komputer cabang menuju server pusat tetap memerlukan route yang benar, jalur balik, serta izin pada firewall router dan perangkat tujuan.
Artikel ini merupakan kelanjutan dari panduan MikroTik untuk jaringan kantor. Pembahasan difokuskan pada koneksi dua LAN menggunakan WireGuard, bukan remote access laptop, penggabungan VLAN antarlokasi, atau pengalihan seluruh internet cabang melalui kantor pusat.
Apa Itu VPN Site-to-Site MikroTik?
VPN site-to-site adalah koneksi yang menghubungkan jaringan pada lokasi berbeda melalui internet atau jaringan transport lain. Router pada setiap lokasi menangani proses pengiriman paket ke tunnel dan penerimaannya kembali ke jaringan lokal.
Sebagai contoh, komputer cabang dapat mengakses aplikasi internal pada server pusat tanpa memublikasikan port aplikasi tersebut langsung ke internet.
Pada desain routed seperti contoh WireGuard dalam dokumentasi MikroTik, setiap lokasi tetap memiliki subnet sendiri. Route menentukan jaringan remote yang dapat dicapai, sedangkan firewall menentukan akses yang diizinkan.
Perbedaan Site-to-Site dan Remote Access
| Aspek | Site-to-site | Remote access |
|---|---|---|
| Pihak yang dihubungkan | Jaringan pada dua lokasi atau lebih | Perangkat pengguna ke jaringan perusahaan |
| Perangkat pembentuk tunnel | Umumnya router pada setiap lokasi | Laptop, ponsel, atau perangkat pengguna dan gateway VPN |
| Contoh penggunaan | Cabang mengakses aplikasi pusat | Karyawan bekerja dari luar kantor |
| Pengaturan akses | Berdasarkan subnet, host, dan layanan | Dapat berdasarkan alamat peer dan kebijakan pengguna |
Artikel ini menggunakan dua router MikroTik. Pengguna LAN tidak perlu memasang aplikasi WireGuard pada setiap komputer selama jalur jaringan dan kebijakannya telah dikonfigurasi dengan benar.
Kapan Kantor Memerlukan Koneksi Antarlokasi?
Kebutuhan yang umum meliputi:
- Kantor cabang mengakses aplikasi internal di pusat.
- Gudang mengakses sistem inventaris perusahaan.
- Administrator mengelola layanan tertentu pada lokasi remote.
- Perusahaan memerlukan koneksi antarsubnet yang tidak membuka aplikasi langsung ke internet.
Tetap periksa karakter aplikasi. Sebagian aplikasi memerlukan DNS internal, beberapa port tambahan, atau memiliki sensitivitas terhadap latency. Keberadaan tunnel tidak otomatis membuat seluruh aplikasi lokal berfungsi tanpa penyesuaian.
Memilih WireGuard atau IPsec
WireGuard dan IPsec dapat digunakan untuk kebutuhan VPN, tetapi konfigurasi dan pertimbangan operasionalnya berbeda.
| Pertimbangan | WireGuard | IPsec |
|---|---|---|
| Identitas peer | Menggunakan public key | Bergantung metode autentikasi yang dipilih |
| Komponen utama | Interface, peer, key, alamat, route, firewall | Peer, identity, profile, proposal, policy, dan komponen terkait |
| Konteks tutorial ini | Dua MikroTik RouterOS v7 | Alternatif apabila lingkungan memerlukan IPsec |
| Pertimbangan interoperabilitas | Perangkat lawan harus mendukung WireGuard | Sesuaikan kemampuan dan parameter IPsec kedua perangkat |
| Performa | Perlu diuji berdasarkan perangkat dan trafik | Perlu diuji berdasarkan perangkat, algoritma, dan dukungan akselerasi |
Dokumentasi resmi MikroTik menjelaskan kedua teknologi tersebut secara terpisah. Pemilihan tidak sebaiknya hanya didasarkan pada klaim bahwa satu protokol selalu lebih cepat atau lebih aman untuk semua lingkungan.manual.mikrotik+1
Mengapa Tutorial Ini Menggunakan WireGuard?
WireGuard dipilih agar alur implementasi dua router tetap terarah: membuat interface, menambahkan alamat tunnel, memasangkan peer, membuat route, lalu mengatur akses.
Alur tersebut mengikuti contoh site-to-site dalam dokumentasi resmi MikroTik.
Kapan IPsec Lebih Relevan?
IPsec perlu dipertimbangkan ketika:
- Perangkat atau layanan lawan mengharuskan IPsec.
- Perusahaan sudah memiliki standar dan operasional IPsec.
- Integrasi membutuhkan metode autentikasi atau parameter tertentu yang didukung kedua pihak.
Untuk implementasinya, periksa dokumentasi IPsec MikroTik. Jangan menganggap konfigurasi WireGuard dapat langsung diterjemahkan menjadi konfigurasi IPsec hanya dengan mengganti protokol.help.mikrotik
Prasyarat Sebelum Membuat VPN
Pastikan Internet dan Akses Administrasi Berfungsi
Kedua router harus sudah memiliki koneksi internet yang dapat digunakan. Jika menggunakan hostname sebagai endpoint, resolver DNS router juga harus berfungsi.
Apabila koneksi dasar belum selesai, gunakan panduan cara setting MikroTik dari awal sampai internet terhubung.
Konfigurasi berikut menggunakan CLI. Anda dapat menjalankannya melalui Terminal di Winbox. Untuk penggunaan antarmukanya, tersedia panduan menggunakan Winbox untuk konfigurasi MikroTik.
Periksa IP Publik, NAT Upstream, dan CGNAT
Tutorial ini menggunakan satu endpoint pusat yang dapat dijangkau dari internet. Cabang memulai koneksi menuju endpoint tersebut.
| Kondisi | Implikasi |
|---|---|
| MikroTik pusat memiliki IP publik langsung | Izinkan UDP WireGuard pada firewall pusat sesuai kebijakan |
| MikroTik pusat berada di belakang modem/router yang Anda kelola | Perlu port forwarding UDP dari perangkat upstream ke MikroTik pusat |
| Pusat berada di belakang CGNAT ISP | Port forwarding pada modem lokal saja biasanya tidak membuat endpoint dapat dijangkau dari internet |
| Cabang berada di belakang NAT | Dapat memulai koneksi outbound ke pusat jika jalur dan kebijakan jaringan mengizinkan |
| Kedua lokasi tidak memiliki endpoint yang dapat dijangkau | Desain dasar ini perlu diubah, misalnya menggunakan hub yang dapat dijangkau |
Dokumentasi MikroTik menjelaskan kebutuhan port forwarding ketika perangkat WireGuard berada di belakang router NAT lain.
persistent-keepalive membantu mempertahankan pemetaan NAT melalui paket berkala. Parameter ini bukan pengganti IP publik, port forwarding, atau hub yang diperlukan oleh topologi tertentu.
Gunakan Subnet yang Tidak Tumpang Tindih
Jangan menggunakan subnet yang sama pada kedua kantor untuk mengikuti contoh ini.
Misalnya, jika pusat dan cabang sama-sama memakai 192.168.10.0/24, komputer dapat menganggap alamat tujuan remote berada pada jaringan lokalnya sendiri.
Pilihan yang paling mudah dipelihara untuk skenario dasar adalah menggunakan subnet berbeda. Solusi khusus untuk subnet overlap, seperti translasi alamat, memerlukan desain tersendiri dan tidak dibahas dalam tutorial ini.
Periksa juga apakah alamat tunnel bertabrakan dengan jaringan lain, termasuk VPN yang sudah ada.
Siapkan Backup dan Jendela Perubahan
Sebelum perubahan:
- Simpan backup dan export konfigurasi secara aman.
- Catat versi RouterOS dan konfigurasi existing.
- Periksa firewall filter, NAT, mangle, FastTrack, dan routing.
- Siapkan akses administrasi lokal atau jalur pemulihan.
- Terapkan perubahan pada waktu penggunaan rendah.
Contoh berikut berbasis dokumentasi RouterOS v7, bukan laporan pengujian perangkat MAS-IT. Nama interface, alamat, urutan firewall, dan build RouterOS harus diperiksa sebelum diterapkan pada jaringan produksi.
Contoh Topologi VPN Pusat dan Cabang
Kedua jaringan tetap terpisah. Internet masing-masing lokasi tetap melalui ISP setempat, sedangkan hanya tujuan LAN remote yang diarahkan ke WireGuard.
textLAN Pusat LAN Cabang
192.168.10.0/24 192.168.20.0/24
| |
MikroTik Pusat ===== WireGuard melalui internet ===== MikroTik Cabang
10.255.255.1/30 10.255.255.2/30
Rencana Alamat dan Endpoint
| Komponen | Pusat | Cabang |
|---|---|---|
| LAN | 192.168.10.0/24 | 192.168.20.0/24 |
| Gateway LAN | 192.168.10.1 | 192.168.20.1 |
| IP tunnel | 10.255.255.1/30 | 10.255.255.2/30 |
| Interface WireGuard | wg-antarkantor | wg-antarkantor |
| Listen port | UDP 13231 | UDP 13231 |
| Interface WAN contoh | ether1-WAN | ether1-WAN |
| Endpoint | IP publik atau hostname aktual pusat | Dipelajari dari koneksi yang dimulai cabang |
| Host pengujian | 192.168.10.10 | 192.168.20.10 |
Alamat LAN dan tunnel tersebut merupakan contoh. Jangan menambahkan ulang alamat gateway LAN jika sudah tersedia.
Pada konfigurasi peer cabang nanti, ganti <ENDPOINT-PUSAT> dengan IP publik atau hostname yang benar-benar dapat dijangkau. Teks bertanda kurung sudut adalah placeholder, bukan nilai yang dapat digunakan langsung.
Tentukan Aplikasi dan Subnet yang Diizinkan
Tunnel tidak harus memberikan akses bebas antara seluruh perangkat.
Contoh kebijakan artikel ini:
| Sumber | Tujuan | Layanan | Kebijakan |
|---|---|---|---|
| LAN cabang | Server pusat 192.168.10.10 | HTTPS TCP 443 | Diizinkan |
Host cabang 192.168.20.10 | Host pusat 192.168.10.10 | ICMP untuk diagnosis | Diizinkan |
Host pusat 192.168.10.10 | Host cabang 192.168.20.10 | ICMP untuk diagnosis | Diizinkan |
| IP tunnel kedua router | IP tunnel peer | ICMP | Diizinkan |
| Trafik antarsubnet lainnya | — | — | Ditolak pada contoh kebijakan ini |
Jika aplikasi menggunakan port lain, sesuaikan berdasarkan dokumentasi aplikasi. Jangan membuka semua port hanya untuk menghindari proses identifikasi.
Untuk desain keamanan yang lebih luas, gunakan panduan firewall MikroTik untuk jaringan kantor.
Memahami Komponen WireGuard
Public Key dan Private Key
Saat interface WireGuard dibuat, RouterOS menghasilkan pasangan private key dan public key.
- Public key diberikan kepada peer.
- Private key tetap disimpan pada router pemiliknya.
- File konfigurasi atau export yang mengandung private key harus diperlakukan sebagai rahasia.
Dokumentasi MikroTik menegaskan bahwa private key tidak dibutuhkan pada perangkat remote.
Endpoint dan Persistent Keepalive
Endpoint adalah alamat internet dan port UDP untuk mencapai peer.
Dalam contoh ini:
- Cabang mengetahui endpoint pusat.
- Pusat tidak memerlukan endpoint cabang yang diketik manual.
- Pusat mempelajari alamat dan port cabang dari paket WireGuard yang terautentikasi.
- Cabang menggunakan keepalive agar koneksi tidak hanya bergantung pada trafik aplikasi.
Desain ini memudahkan cabang dengan alamat internet dinamis atau NAT, selama cabang dapat mengirim paket ke pusat.
Allowed Address Bukan Pengganti Static Route
allowed-address mengaitkan prefix dengan peer WireGuard. Parameter ini digunakan dalam pemilihan peer untuk trafik keluar serta pemeriksaan alamat sumber trafik yang diterima melalui peer.
Namun, RouterOS tetap memerlukan route agar paket menuju LAN remote dikirim ke interface WireGuard.
Dalam contoh resmi MikroTik, pengaturan peer dan /ip route memang dibuat sebagai langkah terpisah.
Langkah Konfigurasi VPN Site-to-Site MikroTik
Terapkan setiap perintah pada router yang disebutkan. Jangan menjalankan kedua blok pusat dan cabang pada perangkat yang sama.
1. Buat Interface WireGuard pada Kedua Router
Pada router pusat:
text/interface wireguard
add name=wg-antarkantor listen-port=13231
Pada router cabang:
text/interface wireguard
add name=wg-antarkantor listen-port=13231
Ambil public key pada masing-masing router:
text:put [/interface wireguard get \
[find where name="wg-antarkantor"] public-key]
Catat:
- Public key pusat.
- Public key cabang.
Pertukarkan public key melalui saluran yang terkontrol. Jangan menyalin private key atau memasukkan tangkapan layar yang memuatnya ke dokumentasi publik. Proses pembuatan interface dan pembacaan public key mengikuti contoh resmi MikroTik.
2. Tambahkan Alamat Tunnel
Pada pusat:
text/ip address
add address=10.255.255.1/30 \
interface=wg-antarkantor \
comment="VPN-S2S tunnel pusat"
Pada cabang:
text/ip address
add address=10.255.255.2/30 \
interface=wg-antarkantor \
comment="VPN-S2S tunnel cabang"
Subnet tunnel berbeda dari subnet LAN. Alamat tersebut digunakan untuk komunikasi antarkedua interface router, bukan dibagikan kepada komputer kantor.
3. Tambahkan Peer di Pusat
Ganti <PUBLIC-KEY-CABANG> dengan public key yang dibaca pada router cabang:
text/interface wireguard peers
add interface=wg-antarkantor \
public-key="<PUBLIC-KEY-CABANG>" \
allowed-address=10.255.255.2/32,192.168.20.0/24 \
comment="VPN-S2S peer cabang"
Endpoint cabang tidak diisi pada contoh ini karena cabang memulai koneksi menuju pusat.
Prefix yang dimasukkan adalah:
- IP tunnel peer cabang:
10.255.255.2/32. - LAN di belakang cabang:
192.168.20.0/24.
4. Tambahkan Peer di Cabang
Ganti kedua placeholder berikut dengan data aktual:
text/interface wireguard peers
add interface=wg-antarkantor \
public-key="<PUBLIC-KEY-PUSAT>" \
endpoint-address=<ENDPOINT-PUSAT> \
endpoint-port=13231 \
allowed-address=10.255.255.1/32,192.168.10.0/24 \
persistent-keepalive=25s \
comment="VPN-S2S peer pusat"
Pada contoh ini, keepalive 25 detik digunakan pada sisi cabang yang memulai koneksi. Nilai tersebut perlu ditinjau sesuai kebutuhan operasional; keepalive tidak memperbaiki endpoint yang salah atau UDP yang diblokir.
Jangan mengganti allowed-address menjadi 0.0.0.0/0 hanya untuk mencoba membuat koneksi bekerja. Tutorial ini tidak bertujuan mengalihkan seluruh internet cabang melalui pusat.
5. Buat Route ke LAN Remote pada Kedua Sisi
Pada pusat:
text/ip route
add dst-address=192.168.20.0/24 \
gateway=wg-antarkantor \
comment="VPN-S2S route LAN cabang"
Pada cabang:
text/ip route
add dst-address=192.168.10.0/24 \
gateway=wg-antarkantor \
comment="VPN-S2S route LAN pusat"
Model route menuju interface WireGuard mengikuti contoh site-to-site resmi MikroTik.
Periksa route yang dibuat:
text/ip route print detail where comment~"VPN-S2S"
Jika LAN berada di belakang router atau core switch lain, tambahkan jalur balik pada perangkat yang relevan. Route pada MikroTik saja tidak cukup jika server membalas melalui gateway lain yang tidak mengetahui jaringan remote.

6. Izinkan Transport VPN melalui Firewall Input
Firewall berikut harus disesuaikan dengan urutan rule existing. Perintah dibuat dalam keadaan disabled agar Anda dapat menempatkannya sebelum mengaktifkannya.
Pada pusat:
text/ip firewall filter
add chain=input \
in-interface=ether1-WAN \
protocol=udp \
dst-port=13231 \
action=accept \
disabled=yes \
comment="VPN-S2S allow UDP pusat"
Lakukan melalui Winbox:
- Buka
IP > Firewall > Filter Rules. - Temukan rule dengan komentar tersebut.
- Posisikan setelah pemeriksaan awal yang relevan, tetapi sebelum rule yang menjatuhkan trafik UDP WireGuard.
- Aktifkan setelah memastikan nama interface dan cakupannya benar.
Jika sumber internet cabang memiliki IP publik tetap, tambahkan pembatasan src-address sesuai alamat tersebut. Jika sumber berubah-ubah, jangan memasukkan alamat lama yang akan memutus koneksi ketika IP berubah.
Pada cabang, skenario ini mengandalkan koneksi yang dimulai outbound dan rule input existing yang menerima balasan established,related. Tidak diperlukan pembukaan port UDP publik cabang secara luas hanya untuk meniru konfigurasi pusat.
Jika pusat berada di belakang modem/router lain, teruskan UDP 13231 ke IP WAN MikroTik pusat pada perangkat upstream tersebut. Jangan membuat port forwarding untuk HTTPS aplikasi pusat pada internet; akses aplikasinya dilakukan melalui tunnel.
Untuk mengizinkan ping antarkedua alamat tunnel, tambahkan rule berikut pada pusat:
text/ip firewall filter
add chain=input \
in-interface=wg-antarkantor \
src-address=10.255.255.2/32 \
dst-address=10.255.255.1/32 \
protocol=icmp \
action=accept \
disabled=yes \
comment="VPN-S2S ICMP tunnel pusat"
Pada cabang:
text/ip firewall filter
add chain=input \
in-interface=wg-antarkantor \
src-address=10.255.255.1/32 \
dst-address=10.255.255.2/32 \
protocol=icmp \
action=accept \
disabled=yes \
comment="VPN-S2S ICMP tunnel cabang"
Posisikan sebelum drop input yang relevan, lalu aktifkan. Rule ini hanya mengizinkan ICMP antarkedua alamat tunnel, bukan Winbox, SSH, DNS, atau seluruh layanan router.
7. Izinkan Trafik Antarsite pada Forward
Contoh berikut menerapkan matriks akses yang sudah ditentukan. Tambahkan pada kedua router:
text/ip firewall filter
add chain=forward \
src-address=192.168.20.0/24 \
dst-address=192.168.10.10/32 \
protocol=tcp \
dst-port=443 \
connection-state=new \
action=accept \
disabled=yes \
comment="VPN-S2S allow HTTPS cabang ke server"
add chain=forward \
src-address=192.168.20.10/32 \
dst-address=192.168.10.10/32 \
protocol=icmp \
action=accept \
disabled=yes \
comment="VPN-S2S allow ICMP cabang ke pusat"
add chain=forward \
src-address=192.168.10.10/32 \
dst-address=192.168.20.10/32 \
protocol=icmp \
action=accept \
disabled=yes \
comment="VPN-S2S allow ICMP pusat ke cabang"
add chain=forward \
src-address=192.168.20.0/24 \
dst-address=192.168.10.0/24 \
action=drop \
disabled=yes \
comment="VPN-S2S drop akses cabang lainnya"
add chain=forward \
src-address=192.168.10.0/24 \
dst-address=192.168.20.0/24 \
action=drop \
disabled=yes \
comment="VPN-S2S drop akses pusat lainnya"
Rule HTTPS hanya menerima koneksi baru. Trafik lanjutannya memerlukan rule forward existing yang menerima established,related.
Sebelum mengaktifkan, susun urutannya:
- Pemeriksaan invalid sesuai kebijakan existing.
- Penanganan koneksi
established,relatedyang sesuai. - Rule izin HTTPS dan ICMP antarsite.
- Dua rule drop khusus antarsubnet.
- Rule accept umum yang tidak boleh mengabaikan pembatasan antarsite.
Periksa pula FastTrack dan rule accept umum yang sudah ada. Jika trafik antarsite dikecualikan dari FastTrack karena kebutuhan queue atau policy routing, pengecualiannya harus dirancang pada rule existing, bukan dengan menonaktifkan seluruh firewall.
Setelah posisi benar, aktifkan rule antarsite dalam satu jendela perubahan yang terkendali. Uji menggunakan koneksi baru. Koneksi yang sudah tercatat established sebelum kebijakan berubah dapat tetap mengikuti state sebelumnya.
Dokumentasi MikroTik membedakan izin transport pada input dan komunikasi antarsubnet pada forward. Contoh artikel ini mempersempit izin forward berdasarkan kebutuhan aplikasi, bukan mengizinkan seluruh trafik tunnel.
8. Periksa NAT dan Jalur Balik
Untuk koneksi routed antarsite, jangan langsung menambahkan masquerade ke interface WireGuard.
Jika NAT internet hanya cocok dengan interface WAN, trafik menuju WireGuard biasanya tidak cocok dengan rule tersebut. Namun, rule source NAT yang terlalu luas dapat mengubah alamat sumber trafik antarsite.
Periksa:
text/ip firewall nat print detail
Jika memang ada rule luas yang menangkap trafik antarsite, pengecualian dapat dibuat sebelum rule NAT tersebut.
Contoh opsional pada pusat:
text/ip firewall nat
add chain=srcnat \
src-address=192.168.10.0/24 \
dst-address=192.168.20.0/24 \
action=accept \
disabled=yes \
comment="VPN-S2S pengecualian NAT pusat"
Contoh opsional pada cabang:
text/ip firewall nat
add chain=srcnat \
src-address=192.168.20.0/24 \
dst-address=192.168.10.0/24 \
action=accept \
disabled=yes \
comment="VPN-S2S pengecualian NAT cabang"
Aktifkan hanya jika diperlukan dan setelah ditempatkan sebelum rule NAT yang bermasalah.
action=accept pada chain source NAT berarti menghentikan translasi untuk trafik yang cocok pada tahap tersebut. Ini bukan izin untuk melewati firewall forward.
Setelah perubahan NAT, gunakan koneksi pengujian baru. Jangan menghapus seluruh connection tracking pada jam kerja hanya untuk mengulang pengujian satu aplikasi.
Cara Memverifikasi VPN Sudah Berfungsi

Periksa Handshake dan Counter Peer
Pada kedua router:
text/interface wireguard peers print detail
Perhatikan:
last-handshake.- Endpoint yang sedang digunakan.
- Counter
rxdantx. - Prefix
allowed-address.
Handshake dapat muncul setelah ada trafik atau keepalive. Jangan menyimpulkan tunnel gagal hanya karena belum ada trafik yang memicu koneksi.
Sebaliknya, handshake yang diperbarui belum membuktikan semua host atau aplikasi dapat dicapai.
Uji Alamat Tunnel dan LAN Remote
Dari pusat:
text/ping 10.255.255.2 src-address=10.255.255.1 count=5
Dari cabang:
text/ping 10.255.255.1 src-address=10.255.255.2 count=5
Pengujian ini memeriksa jalur tunnel dan izin input ICMP yang sudah dibuat.
Untuk LAN, lakukan pengujian dari host yang sesuai dengan matriks akses:
192.168.20.10menuju192.168.10.10.192.168.10.10menuju192.168.20.10.
Jangan menggunakan kegagalan ping ke gateway LAN remote sebagai satu-satunya bukti kegagalan VPN. Pada contoh ini, input menuju alamat gateway LAN remote memang tidak dibuka.
Uji dari Komputer Pengguna ke Layanan Tujuan
Dari komputer cabang, akses HTTPS server pusat:
texthttps://192.168.10.10
Jika aplikasi menggunakan nama domain, pengujian melalui IP hanya memeriksa sebagian jalur. Sertifikat atau konfigurasi virtual host dapat membuat akses IP menampilkan peringatan atau halaman berbeda.
Untuk pemeriksaan port pada Windows PowerShell:
powershellTest-NetConnection 192.168.10.10 -Port 443
Pastikan:
- Server memang menjalankan layanan pada TCP 443.
- Firewall server mengizinkan sumber cabang.
- Gateway server mengarah ke router yang mengetahui subnet cabang.
- Tidak ada firewall internal lain yang memblokir jalur.
Uji DNS dan Pembatasan Akses
Jika akses melalui IP berhasil tetapi nama server gagal, periksa DNS.
Tutorial ini tidak otomatis mengizinkan cabang menggunakan layanan DNS pada router pusat. Jika membutuhkan DNS internal:
- Tentukan server DNS yang digunakan.
- Pastikan rute ke server tersedia.
- Izinkan UDP/TCP 53 hanya dari sumber yang diperlukan.
- Atur resolver atau conditional forwarding sesuai desain.
- Jangan membuka resolver ke internet.
Uji juga akses yang seharusnya ditolak. Contohnya, koneksi dari cabang ke port server yang tidak disetujui harus tetap gagal.
| Pengujian | Hasil yang diharapkan |
|---|---|
| Ping IP tunnel peer | Berhasil jika ICMP diizinkan |
| Ping antara dua host uji | Berhasil jika firewall host mengizinkan |
| HTTPS cabang ke server pusat | Berhasil |
| Layanan lain yang tidak disetujui | Ditolak |
| Internet pengguna cabang | Tetap melalui jalur lokal sesuai desain |
| Nama aplikasi internal | Berfungsi setelah DNS terkait dikonfigurasi |
Troubleshooting VPN Site-to-Site MikroTik
Tidak Ada Handshake
Periksa secara berurutan:
- Endpoint pusat benar dan dapat di-resolve.
- UDP
13231tidak diblokir oleh firewall atau ISP. - Jika ada upstream NAT, port forwarding benar.
- Public key pusat dan cabang tidak tertukar.
- Interface dan peer tidak disabled.
- Route internet ke endpoint tersedia.
- Rule raw atau firewall lain tidak menjatuhkan paket sebelum mencapai input.
Meningkatkan allowed-address menjadi seluruh internet tidak memperbaiki key yang salah atau endpoint yang tidak dapat dijangkau.
Handshake Ada tetapi LAN Tidak Dapat Diakses
Periksa:
- Route menuju remote LAN pada kedua router.
- Remote LAN tercantum pada peer yang benar.
- Prefix tidak overlap dengan jaringan lokal.
- Forward mengizinkan sumber, tujuan, dan layanan yang diuji.
- Source NAT tidak mengubah alamat secara tidak sengaja.
- Host tujuan memiliki jalur balik.
- Firewall host mengizinkan akses.
- Paket pengujian benar-benar termasuk matriks yang disetujui.
Ingat bahwa satu peer dengan prefix yang benar tidak menggantikan kebutuhan route dan firewall.
Hanya Satu Arah atau Satu Aplikasi yang Berjalan
| Gejala | Pemeriksaan utama |
|---|---|
| Cabang dapat memulai, pusat tidak | Apakah kebijakan memang mengizinkan pusat memulai layanan tersebut? |
| Ping berhasil, HTTPS gagal | Listener aplikasi, port, firewall host, TLS |
| IP berhasil, nama gagal | DNS dan resolusi nama |
| Paket kecil berhasil, transfer besar macet | MTU, path MTU discovery, jalur transport |
| Router dapat mengakses, komputer tidak | Gateway host, source address, forward, jalur balik |
Jangan langsung menurunkan MTU ke angka acak. Ukur gejalanya, periksa jalur, lalu sesuaikan berdasarkan hasil pengujian.
Tunnel Bermasalah Saat Menggunakan Dua ISP
WireGuard memiliki dua lapisan trafik:
- Paket internal yang akan dibawa melalui tunnel.
- Paket UDP terenkripsi yang dikirim melalui jaringan internet.
Keduanya dapat terpengaruh kebijakan routing yang berbeda. Remote LAN harus menuju interface tunnel, sedangkan endpoint harus dicapai melalui jalur internet yang benar.
Jika router menggunakan PCC, periksa apakah rule mangle:
- Salah menandai tujuan remote LAN sebagai trafik internet.
- Mengirim balasan UDP melalui ISP yang berbeda.
- Menggunakan routing table tanpa route yang diperlukan.
- Bertabrakan dengan penandaan existing.
Konteks distribusi jalur dijelaskan pada konfigurasi load balancing dua ISP di MikroTik.
Dokumentasi resmi MikroTik menyediakan bagian multi-WAN tersendiri karena balasan handshake dapat mengikuti jalur yang tidak diinginkan jika kebijakan routing tidak konsisten. Jangan menyalin script multi-WAN tanpa menyesuaikan interface, tabel, dan versi RouterOS.
Keamanan dan Performa VPN Kantor
Lindungi Private Key dan Batasi Akses
Praktik yang perlu diterapkan:
- Pertukarkan public key, bukan private key.
- Simpan backup dan export pada penyimpanan yang terkontrol.
- Hapus atau ganti peer yang tidak lagi digunakan.
- Batasi akses antarsubnet sesuai kebutuhan aplikasi.
- Jangan membuka Winbox atau SSH publik hanya untuk mempermudah pengelolaan VPN.
- Tinjau log dan perubahan konfigurasi.
- Pertahankan autentikasi pada aplikasi dan server.
Jangan memasukkan interface WireGuard ke interface list LAN tanpa memeriksa seluruh rule yang menggunakan list tersebut. Dokumentasi MikroTik menjelaskan bahwa tindakan itu memberikan hak akses yang sudah diberikan kepada anggota list LAN.
Periksa Bandwidth, CPU, dan Dampak Queue
Performa aplikasi melalui VPN dipengaruhi kapasitas kedua lokasi, latency, packet loss, kemampuan perangkat, enkripsi, dan pengaturan antrean.
Sebagai contoh, saat pengguna cabang mengambil file dari pusat, kapasitas upload pusat dan download cabang sama-sama berperan.
Periksa resource router:
text/system resource print
Untuk pembagian kapasitas dan pemeriksaan queue, gunakan panduan cara mengatur bandwidth MikroTik.
Jangan menganggap kapasitas VPN sama dengan kecepatan port Ethernet atau angka paket ISP. Hasil perlu diuji pada perangkat, konfigurasi, dan jenis trafik yang benar-benar digunakan.
Dokumentasikan Endpoint, Prefix, dan Prosedur Pemulihan
Dokumentasi operasional setidaknya memuat:
- Nama lokasi dan penanggung jawab.
- Versi RouterOS.
- Endpoint dan port.
- Public key peer.
- Prefix LAN dan tunnel.
- Route terkait.
- Kebijakan aplikasi yang diizinkan.
- Ketergantungan pada modem, ISP, NAT, atau DNS.
- Prosedur pengujian dan rollback.
Pisahkan dokumentasi operasional umum dari penyimpanan rahasia. Private key tidak perlu dicantumkan dalam diagram atau dokumen yang dibagikan luas.
Jika LAN menggunakan beberapa VLAN, tentukan subnet mana yang boleh masuk tunnel. Jangan otomatis memasukkan jaringan tamu, CCTV, dan seluruh server. Untuk penyiapan segmentasinya, gunakan panduan cara membuat VLAN di MikroTik.
Kapan Perlu Bantuan Konfigurasi VPN Antarkantor?
Bantuan implementasi layak dipertimbangkan ketika:
- Kedua lokasi berada di belakang jaringan ISP yang sulit dijangkau.
- Subnet pusat dan cabang tumpang tindih.
- Terdapat beberapa cabang, beberapa ISP, atau policy routing kompleks.
- Aplikasi membutuhkan akses yang lebih rinci.
- Perubahan harus dilakukan tanpa kehilangan akses administrasi.
- Tidak tersedia dokumentasi firewall dan route existing.
Kebutuhan tersebut dapat didiskusikan melalui layanan konfigurasi Router & Switch MAS-IT. Ruang lingkup layanan yang tercantum mencakup VPN site-to-site, routing, firewall, multi-WAN, dan bandwidth management yang disesuaikan dengan kebutuhan jaringan perusahaan.
Pembahasan sebaiknya dimulai dari kebutuhan aplikasi dan topologi, bukan hanya permintaan “membuat tunnel”. Dengan demikian, hasil implementasi dapat dinilai dari akses yang benar-benar diperlukan dan pembatasan yang tetap bekerja.
Kesimpulan
VPN site-to-site MikroTik dengan WireGuard memerlukan lebih dari pembuatan interface. Kedua router harus memiliki peer yang benar, prefix yang sesuai, route menuju LAN remote, serta firewall yang membedakan transport tunnel dan akses aplikasi.
Mulailah dengan subnet yang tidak tumpang tindih dan endpoint yang dapat dijangkau. Setelah handshake berhasil, lanjutkan pengujian dari komputer pengguna, periksa DNS serta jalur balik, dan pastikan akses yang tidak disetujui tetap ditolak.
Setelah konektivitas antarkantor dibahas, pengelolaan jaringan juga perlu memperhatikan pengguna tamu yang tidak seharusnya memperoleh akses ke LAN internal maupun tunnel perusahaan. Artikel berikutnya, Cara Membuat Hotspot Voucher MikroTik, direncanakan membahas autentikasi dan pengelolaan akses internet berbasis voucher. Topik tersebut merupakan kebutuhan akses yang berbeda, bukan tahap wajib untuk membangun VPN site-to-site.
FAQ VPN Site-to-Site MikroTik
Apakah VPN Site-to-Site Menyatukan Dua Kantor Menjadi Satu Jaringan Layer 2?
Tidak pada desain artikel ini. Kedua lokasi tetap menggunakan subnet berbeda dan berkomunikasi melalui routing.
WireGuard membawa paket IP melalui interface tunnel; contoh site-to-site resmi MikroTik menggunakan subnet berbeda dan route menuju jaringan remote. Kebutuhan memperluas broadcast domain memerlukan desain lain.
Apakah Semua Aplikasi LAN Langsung Berfungsi melalui VPN?
Tidak selalu. Aplikasi dapat bergantung pada DNS, discovery berbasis broadcast, beberapa port, pengaturan server, atau persyaratan latency.
Karena itu, keberhasilan ping tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran. Uji proses kerja aplikasi yang sebenarnya, termasuk login, transaksi, transfer data, dan koneksi balik jika digunakan.
Bisakah Topologi Dua Kantor Dikembangkan ke Banyak Cabang?
Bisa, tetapi perlu perencanaan peer, prefix, route, dan kebijakan akses untuk setiap lokasi.
Jangan menduplikasi satu konfigurasi sambil mempertahankan subnet yang sama atau menggunakan prefix allowed-address yang saling bertabrakan pada peer dalam interface yang sama. Untuk banyak cabang, tentukan pula apakah menggunakan hub-and-spoke atau desain lain yang sesuai kebutuhan.
Apakah Penggantian Public Key Cukup Jika Private Key Diduga Bocor?
Tidak cukup hanya mengganti teks public key pada peer remote tanpa mengganti pasangan kunci yang terkait.
Perangkat yang private key-nya diduga bocor perlu menggunakan pasangan kunci baru, kemudian public key barunya diperbarui pada peer yang sah. Lakukan perubahan secara terencana karena pergantian identitas akan memutus koneksi sampai kedua sisi sesuai.
Apakah Menutup Akses Internet Server Tetap Diperlukan Setelah Ada VPN?
Ya, jika layanan tersebut memang hanya ditujukan untuk pengguna internal. Tunnel VPN tidak otomatis menghapus port forwarding, layanan publik, atau rule lama.
Periksa kembali eksposur aplikasi pada modem, router, firewall, dan host. VPN seharusnya menjadi jalur akses yang direncanakan, bukan tambahan jalur sementara layanan internal tetap terbuka tanpa kebutuhan.

