Mungkinkah Metavers Merampas Kehidupan Nyata?

Mungkinkah Metaverse Merampas Kehidupan Nyata?

Facebook, Microsoft dan sejumlah perusahaan lain saling berebut untuk menentukan iterasi atau sifat tertentu dari algoritma atau program komputer berikutnya dari internet.

Kita mungkin pernah mendengar gambaran bahwa metaverse akan mengubah cara hidup manusia. Mengacu pada dunia digital di mana orang akan berkumpul untuk bekerja, bermain, dan hang out, Metaverse memiliki sebuah visi untuk langkah selanjutnya dalam evolusi internet. Beberapa dari ruang online tersebut akan menjadi pengalaman 3D yang imersif (berada di ruangan dengan gambar bergerak yang dilengkapi tata suara) dan membutuhkan kacamata khusus untuk menikmatinya. Sementara yang lain akan bermain di layar komputer. Kondisi ini akan mengalami perubahan dan masih akan terus berkembang.

Siklus hype teknologi selalu datang dan pergi. Metaverse bisa saja gagal memenuhi visinya bahkan sebelum disadari. Sampai sekarang, minat untuk mengubah dan menghadirkan teknologi terbaru masih terus tumbuh. Perubahan ini pun terus terjadi di paltform digital lainnya seperti game, NFT, dan belanja online. Ini sebuah kata kunci yang dapt dijadikan acuan untuk “mencurigai” masa depan Metaverse.

Microsoft menjelaskan bahwa niat untuk mengakuisisi ActivisionBlizzard sebesar $69 miliar, merupakan bagian dari rencana ekspansinya ke Metaverse. Tahun lalu, Facebook telah mengubah namanya menjadi Meta. Ini menggambarkan sebuah ambisi menguasai jejaring sosial untuk kemudian “diklaim” sebagai  penggerak utama  di dunia baru. Rec Room dan game seperti Roblox dan Minecraft terlibat dalam diskusi tentang apa itu Metaverse atau akan menjadi seperti apa Metaverse ke depannya.

Teknologi Metaverse semakin sering diperbincangan  selama beberapa waktu belakangan ini. Meski demikian, realitas virtual, augmented reality, dan komputasi 3D – konsep teknologi di baliknya – yang telah lebih dulu ada, sampai saat ini masih tetap digandrungi. Ledakan minat saat ini terhadap kehadiran teknologi Metaverse hanyalah puncak terbaru dalam dorongan selama bertahun-tahun untuk membuat kemajuan ini berguna bagi semua orang.

Sehingga terjadi perubahan dalam pemahaman dan keyakinan bahwa dunia internet perlu ditata ulang. Namun seberapa jauh perubahan itu pada akhirnya, hanya menajdi sebuah teka-teki yang sulit bagi kita untuk menemukan jawabannya. Masih penuh dengan tanda tanya. Peta jalan untuk Metaverse masih dianggap “setengah beraspal”. Masih belum memiliki sebuah kepastian akan seperti apa ke depan nantinya.

Di tengah diskusi seputar taknologi Metaverse ini, ada satu hal yang pasti, bahwa jika ada uang yang dapat dihasilkan, perusahaan besar akan terlibat. Selain  Microsoft  dan Meta, masih ada Qualcomm,  Nvidia, Valve, Epic,  HTC , dan  Apple yang semuanya memimpikan cara baru untuk terhubung secara online. Jadi, kita masih akan mendengar lebih banyak perbincangan tentang Metaverse di tahun-tahun mendatang. 

Mungkinkah Metaverse Merampas Kehidupan Nyata
Mungkinkah metaverse merampas kehidupan nyata? Ilustrasi Metaverse.

Apa itu Metaverse?

Metaverse digambarkan bahkan diklaim sebagai sebuah terobosan digital super canggih di era ini dan dipredikasi akan semakin berkembang di masa depan. Meski demikian, Metaverse dianggap masih belum memuaskan. Metaverse masih merupakan sebuah konsep yang spekulatif. Sebuah evolusi internet yang sering digambarkan sebagai ruang online di mana orang-orang dapat bersosialisasi, bekerja, dan bermain sebagai avatar. Ruang-ruang itu digunakan bersama dan selalu tersedia; setelah selesai menggunakannya, tidak akan hilang seperti panggilan Zoom. 

Meski demikian belum ada artikulasi yang jelas terkait Metaverse itu sendiri. Deskripsinya masih terlampau luas. Banyak orang mengatakan bahwa Metaverse sudah ada di dunia digital Roblox, Minecraft, dan Fortnite , yang memungkinkan pemain berkumpul di lingkungan 2D. Bahkan Second Life, platform sosial dan game yang berusia hampir dua dekade dan sedang diupgrade ini juga digolongkan sebagai metaverse OG. 

Bos Facebook Mark Zuckerberg , CEO Microsoft Satya Nadella , dan pendukung lainnya melihat pengalaman yang lebih jauh dan mendalam yang menggabungkan sejumlah teknologi yang ada, seperti headset VR, perangkat seluler, komputer pribadi, dan server yang terhubung ke cloud. Para futuris ini membayangkan perkembangan dunia virtual 3D, yang mungkin dapat dimasuki sambil mengenakan headset atau kacamata AR . Memang belum ada keharusan menggunakan VR atau AR untuk mencapai Metaverse, tetapi keduanya berjalan beriringan. Itu menunjukkan headset ini akan kompatibel dengan apa pun yang ditawarkan. Gelombang baru VR dan headset merupakan sebuah realitas yang menghadirkan harapan lahirnya kolaborasi antara Meta, Sony, Apple, dan mungkin lainnya.

Ada perbincangan yang mengatakan bahwa Metaverse akan menjadi dunia virtual yang paralel dengan kehidupan IRL (In Real Life – Di Kehidupan Nyata) kita. Lingkungan digital, taman, dan klub akan bermunculan, mungkin di satu dunia virtual atau pun tersebar di banyak dunia virtual. Hal ini menimbulkan ketertarikan untuk terlibat di dalamnya. Ada investor yang bahkan sudah berkeinginan untuk memiliki sebidang tanah virtual. Sebut saja Barbados yang telah mengindikasikan keinginannya untuk memiliki sebuah kedutaan di Metaverse. 

Meski demikian, kehadiran Metaverse juga melahirkan kelompok yang menyuarakan skeptismenya. Kelompok skeptis ini menggambarkan Metaverse ini dikerjakan hanya mengikuti keinginan Mark Zuckerberg semata. Mereka juga mempersoalkan adanya  headset rumit yang mesti dibutuhkan untuk bisa mengakses bagian paling menarik dari Metaverse. Penemu teknologi Playstation menyebut; mereka “sangat menjengkelkan”, sementara seorang eksekutif senior Meta menyebut headset perusahaannya sendiri “celaka.” Mereka berpendapat bahwa Big Tech belum menemukan cara untuk mengekang ujarankebencian, meminimalisir informasi yang salah, danmencegah intimadasi di dunia maya. Di lingkungan yang memiliki dimensi ruang yang luar biasa bebasnya itu, akan menjadi sesuatu yang sangat menakutkan jika mau menangani masalah-masalah seperti itu menurut kelompok skeptis ini.

Baca juga: Microsoft Rilis Penelitian dan Teknologi Memudahkan Sistem Kerja Hybrid

Akan ada satu atau banyak dunia Metaverse?

Seabagai pengguna internet, pertanyaan ini cukup mengganggu dan sangat relevan. Untuk saat ini tentu belum ada jawabannya. Tidak ada standar untuk metaverse dan banyak perusahaan berteriak-teriak untuk meletakkan dasar yang akan diikuti orang lain. Facebook, Microsoft, Sony , Epic Games, dan sekelompok perusahaan kecil semuanya mengerjakan proyek dengan harapan meraih keuntungan sebagai penggerak pertama. Tidak jelas apakah headset VR satu perusahaan akan kompatibel dengan dunia multipemain ekspansif perusahaan lain atau grafis berbasis cloud. Sebagian besar perusahaan menjanjikan Metaverse yang memungkinkan perusahaan lain masuk. Tapi itu mengharuskan mereka untuk menyepakati bagaimana mereka bekerja sama.

Meta, yang berencana menghabiskan miliaran dollar untuk proyek Metaverse-nya, mengatakan interoperabilitas – kemampuan suatu aplikasi bisa berinteraksi dengan aplikasi lainnya melalui suatu protokol yang disetujui bersama lewat bermacam-macam jalur komunikasi, biasanya lewat network TCP/IP dan protokol HTTP dengan memanfaatkan file XML. Aplikasi disini boleh berada di platform yang berbeda misalnya; Delphi Win32, .NET, Java, atau bahkan pada O/S yang berbeda – menjadi sangat penting. Jika seseorang memiliki avatar di Facebook, avatar yang sama harus dapat digunakan juga di platform Microsoft. Kalau ini yang terjadi, maka menggamabrkan adanya Metaverse tunggal. Faktanya, jika seseorang memindahkan skin yang dibeli di Fortnite ke platform lain add-on tersebut masih mengalami kemacetan di game battle royale. 

Visi layanan pendukung Metaverse tunggal dari banyak perusahaan yang berbeda mengingatkan pada cita-cita utopis internet awal. Namun, ketika para pionir awal mengetahui berapa banyak uang yang dapat dihasilkan secara online, semua pertaruhan mereka dibatalkan. Kemungkinan hal ini akan dialami juga oleh Metaverse.

Dan ada kecurigaan bahwa Metaverse akan dimulai sebagai platform yang saling bersaing antar perusahaan satu dengan lainnya, masing-masing mengklaim sebagai Metaverse . Gambaran ini seperti kehadiran awal pesan instan, ketika layanan terfragmentasi. Namun, seiring berjalannya waktu, standar akan muncul. Dan pada akhirnya para pemain besar akan menggunakan teknologi yang kompatibel, yang akan berkembang menjadi sesuatu yang menyerupai protokol email. Internet secara luas bekerja seperti itu sekarang dengan pertempuran antara protokol yang disepakati dan standar kepemilikan, konten dari sejumlah perusahaan dan ekosistem perangkat lunak yang bersaing.

Mungkinkah Metaverse Merampas Kehidupan Nyata
Ilustrasi Metaverse.

Akan seperti apa di Metaverse?

Ide di balik Metaverse yang luar biasa – yang membutuhkan headset – adalah dunia digital 360 derajat yang imersif. Seseorang akan memiliki avatarnya sendiri, yang dapat dirancang, dan akan memiliki aset digital, yang kemungkinan akan direkam di blockchain. Beberapa orang berpikir seseorang akan membeli sebidang tanah digital dan membangun rumah online, di mana dapat menghibur teman-teman (atau setidaknya avatar) mereka. 

Hal ini mungkin terdengar sangat fantastis bahkan tidak masuk akal, tetapi taruhan pada nilai tanah digital sudah dimulai. Tokens.com, sebuah perusahaan Kanada, menghabiskan hampir $2,5 juta untuk memiliki properti virtual di Decentraland, sebuah platform dunia 3D yang merupakan keturunan spiritual Geocities atau Second Life. Pembelian di platform Decentraland menggunakan token blockchain ethereum. 

Orang lain melihat pengalaman yang lebih cair. Versi pengalaman Metaverse yang lebih sederhana, seperti Roblox atau Fortnite, sudah tersedia. Game-game itu tidak begitu imersif seperti yang dibicarakan Zuck terkait Metaverse, tetapi mereka menawarkan konsep yang lebih masuk akal tentang apa yang sedang direncanakan.

Semua hal yang sudah dilakukan di internet menunjukkan bagaimana Metaverse bisa tumbuh. Akan ada banya komponen yang ditawarkan seperti telepresence Zoom, teknologi VR dan AR, dan banyak media sosial. Sehingga diharapkan mesti ada upaya untuk menyatukan semuanya sehingga menyenangkan atau bermanfaat. 

Peralatan seperti apa yang saya perlukan untuk memasuki metaverse?

Seperti informasi yang beredar, untuk memasuki Metaverse, Facebook menginginkan seseorang mesti membeli salah satu headset Oculus Quest 2 VR-nya. Itu tergantung dari mana seseorang mau masuk ke Metaverse. Meskipun perangkat kerasnya mandiri dan tidak memerlukan PC atau konsol game untuk digunakan seperti: Valve, HTC, HP dan Sony, yang perlengkapannya berfungsi dengan PC atau PlayStation 4/5.

Sementara kolaborasi Microsoft dan Magic Leap menghadirkan teknologi headset AR, yang melapisi informasi digital di atas dunia nyata dan cenderung jauh lebih mahal. Demikian juga Qualcomm dan perusahaan lain sedang mengembangkan metode kacamata AR untuk bekerja dengan ponsel, meskipun sebagian besar aplikasi sejauh ini tetap eksperimental atau berfokus pada bisnis seperti kacamata AR prototipe Snap, atau kacamata seperti Nreal Light. Hal ini menunjukkan masih banyak persoalan yang mesti dikerjakan untuk menarik minat orang mempertimbangkan untuk menggunakannya.

Seseorang masih dapat memasukkan Metaverse yang ada, seperti Roblox dan Minecraft, dari komputer, tablet, atau ponselnya. Ini bukan pengalaman 360 derajat, tetapi popularitas platform ini berbicara tentang daya tarik mereka.

Dari mana asal Metaverse?

Neal Stephenson menciptakan istilah dalam Snow Crash, sebuah novel tahun 1992 di mana karakter utama, seorang sopir pengiriman pizza, ada di dunia fantasi virtual online. Idenya mendapat pembaruan di Ready Player One 2011, sebuah novel, di mana orang-orang berkumpul di Metaverse Oasis, yang mengilhami peluncuran Oculus Rift Facebook.

Di luar fiksi, Linden Lab menciptakan Second Life, dunia virtual yang diluncurkan pada tahun 2003 dan menarik perusahaan mobil, label rekaman dan pembuat komputer untuk membuka pos digital. CNET juga hadir di Second Life. Setelah heboh, popularitas Second Life perlahan memudar, meskipun masih aktif. 

Game seperti Minecraft, Roblox, dan Fortnite juga telah digambarkan sebagai Metaverse. Fortnite telah menyelenggarakan konser, termasuk pertunjukan oleh rapper Travis Scott dan bintang pop Ariana Grande, yang menarik perhatian pada Shoot Em Up yang sudah populer. Seri Soundwave Fortnite bersifat internasional dan mencakup musisi dari Mesir, Mali, dan Jepang. Ini digambarkan sebagai landasan konsep Metaverse.

Pandemi yang melanda dunia selama lebih dari dua tahun telah mendorong banyak pihak untuk mendefenisikan kembali terminologi virtual. Belum ada yang dapt menggambaran dengan sempurna seperti apa masa depan dunia virtual. Tetapi pemikiran ulang tentang artinya berkumpul secara virtual dan dalam skala besar sedang dilakukan. Begitu banyak orang ingin mendefinisikannya guna mencapai sebuah titik temu pemahaman yang sama sehingga dapat memberikan kebaikan dunia. Seperti apa dunia metaverse ke depan? Mungkinkah Metaverse Merampas Kehidupan Nyata?

(Sumber: https://www.cnet.com/)