MAS-IT
Cerdas menggunakan Media Sosial

Marak Cyber Crime, Pengguna Medsos Perlu Hati-Hati Membuat Postingan

Platform Media sosial (medsos) menjadi ruang yang sangat terbuka bagi siapa saja yang menggunakannya. Sebagai media masyarakat yang murah dan mudah, media sosial dipakai oleh setiap pengguna untuk menyampaikan segala informasi kepada siapa saja. Baik informasi yang bersifat remeh temeh hingga yang bersifat serius.

Media sosial telah bermetamorfosis menjadi ruang pertunjukan eksistensi. Mulai dari apa yang dilihat, dimakan, dipikirkan, hingga perasaan pribadi, semua bisa  ditampilkan di media sosial. Namun, perilaku ini tentu perlu dipikirkan dengan cerdas di tengah maraknya berbagai kejahatan di media sosial. Setiap kita perlu memproteksi diri agar tidak menjadi korbannya. Juga berupaya untuk melindungi orang lain agar tidak menjadi sasaran kejahatan digital atau cyber crime yang kian canggih akhir-akhir ini.

Dalam sebuah Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kota Kediri, Jawa Timur beberapa waktu lalu, Stefany Anggriani, Profesional Make Up Artist menyarankan untuk berhati-hati ketika ingin memposting sesuatu. Meskipun akun media sosial merupakan akun pribadi, tapi postingan merupakan konsumsi publik. Sebuah kecerobohan kecil bisa saja berdampak besar dan merugikan bagi pekerjaan, hubungan sosial dan identitas pemosting atau orang lain.

Untuk menghindari hal itu, ada beberapa hal atau informasi yang tidak boleh dsebarkan di media sosial. Informasi tersebut berpotensi disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Perlu pengguna media sosial pertimbangkan secara cerdas sebelum memostingnya, misalnya;

  1. Boarding Pass/ Tiket Pesawat
    Dengan memposting boarding pass/tiket pesawat, rekaman data penumpang dapat dengan mudah tersebar di ruang publik.
  2. Foto Slip Gaji, Kartu ATM, Kartu Kredit dan Bank tempat menabung
    Postingan ini bisa membuat pemosting menjadi sasaran pelaku kejahatan.
  3. Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, KTP, SIM dan Ijazah
    Dengan memosting dokumen-dokumen ini akan memudahkan terjadinya pencurian data oleh orang atau pihak yang tidak bertanggungjawab. Menjadi lebih berbahaya lagi kalau sampai jatuh ke tangan orang/pihak asing.
    Jika diminta untuk foto selfi menggunakan KTP pun sebaiknya dipastikan untuk keperluan yang aman dan tidak dipublikasikan oleh pihak yang meminta.
  4. Hasil Karya Orang Lain (Lukisan, Foto dan Ukiran)
    Bukan ide yang baik untuk memposting ke media sosial hasil karya orang lain yang belum dipublish secara resmi oleh pemiliknya. Jikapun pemilik hasil karya sudah mempostingnya, perlu meminta izin untuk menggunakannya. Hal ini sebagai bentuk perlindungan dan penghargaan terhadap hak cipta orang lain.
  5. Tiket
    Memposting tiket pertandingan, tiket konser dan tiket menang undian hanya akan mendatangkan risiko kriminalitas. Para hacker bisa saja mereplikasi barcode pada tiket yang akan mendatangkan kesulitan bagimu.
Cerdas menggunakan media sosial
Ilustrasi dokumen yang sebaiknya tidak diposting ke media sosial/ Foto: internet.

Data pribadi dalam konstitusi disebutkan secara eksplisit dalam Pasal 28G ayat (1) sebagai hak asasi manusia yang wajib dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang.“Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.

Pelindungan data pribadi diatur juga dalam Pasal 26 UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang telah diubah dengan UU No. 19 Tahun 2016, yaitu setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan orang yang bersangkutan.

Dalam pemanfaatan Teknologi Informasi, perlindungan terhadap data pribadi merupakan salah satu bagian dari hak pribadi (privacy rights). Hak pribadi mengandung pengertian sebagai berikut:

  1. Hak untuk menikmati kehidupan pribadi dan bebas dari segala macam gangguan.
  2. Hak untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain tanpa dimata-matai.
  3. Hak untuk mengawasi akses informasi tentang kehidupan pribadi dan data seseorang.

Dan beberapa undang-undang lain seperti:
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM)
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan (UU Adminduk)

Cerdas menggunakan media sosial
Ilustrasi dokumen yang sebaiknya tidak diposting ke media sosial/ Foto: internet.

Baca juga: Membandingkan Microsoft Teams vs Google Meet vs Zoom: Siapa yang terbaik?

Selain untuk menghindari pencurian atau penyalahgunaan data, pengguna media sosial pun perlu mengantisipasi agar tidak menjadi korban kejahatan lain. Seperti penyeberluasan data pribadi sebagai upaya menjatuhkan kredibilitas seseorang yang dikenal dengan istilah doxing.

Doxing adalah kegiatan mengumpulkan informasi data pribadi dan menyebar luaskan atau memposting informasi tersebut kepada publik. Doxing bertujuan untuk mempermalukan, menakut-nakuti, memeras, memfitnah, menggertak, bahkan mengancam untuk membahayakan seseorang.

Adapun beberapa model doxing yang sering dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. yakni:

  1. Deanonymization atau tindakan menyebarkan informasi terkait identitas seseorang yang sebelumnya menggunakan nama samaran atau anonim.
  2. Targeting doxing atau upaya pengungkapan identitas nomor telephone atau email seseorang. Targeting doxing menyebarkan identitas pribadi seperti alamat rumah, alamat kampus, jurusan kuliah, dan alamat tempat bekerja untuk tujuan kejahatan.
  3. Delegitimization atau perbuatan menyebarkan informasi pribadi guna meruntuhkan kredibilitas, reputasi, dan karakter seseorang sebagai upaya untuk mempermalukannya.

Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan agar terhindar dari perilaku doxing, diantaranya:

  1. Periksa pengaturan privasi akun media sosial, pastikan untuk tahu siapa saja yang dapat melihat dan memiliki akses terhadap konten anda.
  2. Pakai nama pengguna dan kata sandi yang unik untuk akun media sosial dan pastikan bahwa setiap pertanyaan keamanan sulit untuk ditebak.
  3. Pakai 2 langkah otentikasi keamanan di akun media sosial
  4. Batasi informasi pribadi yang ditampilkan seperti alamat pribadi, tempat belajar atau bekerja, dan nomor telepon.
  5. Perbiasakan mencari informasi tentang diri sendiri dalam mode penyamaran (incognito mode), untuk mengetahui seberapa banyak informasi data pribadi anda yang bisa diakses oleh orang lain.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *